LintasJatim,. // – Musim kemarau umumnya identik dengan cuaca cerah dan terik pada siang hari. Namun, kondisi berbeda justru dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Jawa Timur, termasuk Kabupaten Bojonegoro. Saat malam hingga pagi hari, suhu udara terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya. Kondisi tersebut juga dirasakan warga di Kecamatan Kepohbaru dalam beberapa hari terakhir.
Fenomena udara dingin yang muncul saat musim kemarau ini dikenal dengan istilah bediding. Meski menyebabkan suhu udara turun cukup signifikan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Jawa Timur memastikan bahwa bediding bukan merupakan cuaca ekstrem, melainkan fenomena alam yang normal dan hampir selalu terjadi setiap musim kemarau.
Belakangan ini, fenomena bediding kembali menjadi perhatian masyarakat karena udara dingin terasa lebih dominan pada malam hingga menjelang pagi. Tidak sedikit warga yang bertanya-tanya mengenai penyebabnya, dampaknya, serta sampai kapan kondisi tersebut akan berlangsung.
Apa Itu Bediding?
Berdasarkan penjelasan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur, bediding adalah kondisi ketika suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibandingkan kondisi normal selama musim kemarau, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.
Istilah bediding berasal dari bahasa Jawa yang berarti udara dingin atau hawa yang menusuk tubuh. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Jawa telah lama menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan udara dingin yang muncul pada musim kemarau.
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari siklus iklim tahunan sehingga tidak perlu dianggap sebagai kejadian cuaca ekstrem maupun fenomena yang membahayakan selama masyarakat tetap menjaga kondisi kesehatan.
Data klimatologi BMKG juga menunjukkan bahwa fenomena serupa telah berulang selama puluhan tahun. Bahkan, suhu udara terendah yang pernah tercatat di Jawa Timur dalam sekitar 30 tahun terakhir mencapai 11,4 derajat Celsius pada Agustus 1994. Catatan tersebut menunjukkan bahwa penurunan suhu saat musim kemarau merupakan fenomena yang wajar.
Mengapa Bediding Terjadi?
Menurut BMKG, terdapat beberapa faktor atmosfer yang menyebabkan suhu udara menjadi lebih dingin saat musim kemarau.
Faktor pertama adalah kondisi langit yang cenderung cerah dengan tutupan awan yang sangat sedikit. Pada siang hari, permukaan bumi menyerap panas matahari dalam jumlah besar.
Namun ketika malam tiba, panas tersebut dengan cepat dilepaskan kembali ke atmosfer melalui proses radiative cooling atau pendinginan akibat radiasi.
Karena awan sangat sedikit, panas yang dilepaskan dari permukaan bumi tidak tertahan di atmosfer sehingga suhu udara turun lebih cepat dibandingkan saat musim hujan.
Selain itu, bediding juga dipengaruhi oleh angin Monsun Australia yang bertiup menuju Indonesia selama musim kemarau. Angin ini membawa massa udara yang relatif kering dan lebih dingin.
Rendahnya kandungan uap air di atmosfer membuat udara lebih mudah kehilangan panas sehingga udara pada malam hingga dini hari terasa semakin dingin.
Bediding Terjadi Sampai Kapan?
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur menjelaskan bahwa fenomena bediding umumnya berlangsung selama musim kemarau, yakni mulai Juni hingga September.
Artinya, masyarakat di Jawa Timur, termasuk Kabupaten Bojonegoro dan khusunya Kecamatan Kepohbaru, masih berpotensi merasakan suhu udara yang lebih dingin pada malam hingga pagi hari sampai memasuki September.
Puncak fenomena bediding biasanya terjadi pada Agustus, ketika suhu udara mencapai titik terendah.
Sementara itu, di wilayah pegunungan maupun dataran tinggi, udara dingin dapat berlangsung lebih lama tergantung perkembangan musim kemarau.
Dalam kondisi tertentu, suhu udara yang sangat rendah bahkan dapat memunculkan embun es (frost), seperti yang beberapa kali terjadi di kawasan Gunung Bromo maupun Dataran Tinggi Dieng.
Ciri-ciri Fenomena Bediding
Masyarakat dapat mengenali fenomena bediding melalui beberapa karakteristik berikut:
1.Suhu udara malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.
2.Kelembapan udara relatif rendah.
3.Langit cerah atau hanya sedikit berawan.
4.Curah hujan sangat rendah karena berada pada puncak musim kemarau.
Perbedaan suhu antara siang dan malam cukup besar. Siang hari terasa panas, sedangkan malam hingga pagi hari terasa dingin.
Dampak Bediding
Walaupun bukan termasuk cuaca ekstrem, bediding tetap dapat memberikan dampak terhadap berbagai sektor apabila berlangsung dalam waktu cukup lama.
1. Sektor Kesehatan
Suhu udara yang lebih rendah dapat mengganggu kenyamanan tubuh, terutama bagi bayi, anak-anak, lansia, serta penderita penyakit saluran pernapasan.
Udara dingin juga berpotensi memperparah asma, influenza, batuk, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada sebagian masyarakat yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
2. Sektor Pertanian
BMKG menyebut suhu yang sangat rendah di kawasan dataran tinggi dapat memunculkan embun es (frost).
Fenomena tersebut berpotensi merusak tanaman hortikultura yang sensitif terhadap suhu dingin, seperti kentang, kubis, wortel, bawang, bunga, serta berbagai jenis sayuran lainnya.
3. Sektor Peternakan
Bediding juga dapat menyebabkan stres pada hewan ternak akibat perubahan suhu lingkungan.
Jika tidak diantisipasi dengan baik, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit bahkan kematian ternak, terutama pada ternak yang masih muda.
Tips Menghadapi Bediding
BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa langkah antisipasi selama fenomena bediding berlangsung.
Di antaranya mengenakan pakaian yang lebih hangat terutama pada malam dan pagi hari, menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memenuhi kebutuhan cairan, serta beristirahat yang cukup.
Petani juga disarankan memberikan perlindungan pada tanaman menggunakan naungan atau plastik mulsa, khususnya di wilayah yang berpotensi mengalami embun es.
Sementara itu, peternak diminta memastikan kandang ternak tetap tertutup dengan baik agar suhu di dalam kandang tetap hangat dan ternak terhindar dari stres akibat udara dingin.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG selama musim kemarau berlangsung.
Meski udara terasa lebih dingin dari biasanya, BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu panik karena bediding merupakan fenomena alam yang normal saat musim kemarau. Namun demikian, kewaspadaan tetap diperlukan dengan menjaga kesehatan serta mengantisipasi dampaknya terhadap sektor pertanian dan peternakan agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan aman dan nyaman.(*)