Bojonegoro Lintasjtim.site- Pasca libur sekolah telah usai, derap langkah kecil kembali mengisi halaman sekolah dengan membawa tas, seragam, serta kisah yang tak selalu sama bagi setiap siswa.
Di tengah euforia masuk sekolah kembali, muncul sebuah pesan sunyi namun menggugah yang mengingatkan bahwa empati adalah pelajaran pertama yang seharusnya hadir di ruang kelas.
Seruan tersebut kini ramai diperbincangkan di media sosial dan ruang-ruang diskusi pendidikan. Intinya sederhana namun memiliki makna dalam: para guru diminta untuk mengganti kebiasaan membuka kelas dengan pertanyaan “liburan ke mana?” dengan kalimat yang lebih manusiawi, yaitu “bagaimana liburannya?”.
“Tidak semua siswa memiliki privilese untuk berlibur. Ada yang menghabiskan waktu membantu orang tua, ada pula yang sekadar bertahan dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan,” ujar seorang pemerhati pendidikan di Bojonegoro pada jumat (2/1/2026)
Menurutnya, pertanyaan yang kurang tepat dapat menciptakan jarak psikologis di antara siswa di kelas. “Sekolah sejatinya bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang aman bagi tumbuhnya empati.
Pertanyaan sederhana bisa berdampak besar. Anak-anak yang tak punya cerita liburan kerap memilih diam, merasa berbeda, bahkan minder,” jelasnya.
Nada serupa juga disampaikan oleh salah satu guru Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Bojonegoro. Secara tidak langsung, ia mengakui bahwa kebiasaan bertanya mengenai tujuan liburan sering dilakukan tanpa disadari.
“Padahal yang lebih penting adalah bagaimana kondisi batin anak setelah libur panjang. Apakah mereka bahagia, lelah, atau justru membawa beban dari rumah,” ucap guru tersebut.
Di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat, liburan sekolah bukan selalu identik dengan rekreasi. Bagi banyak keluarga, libur sekolah bahkan berarti tambahan tantangan terkait biaya makan, kebutuhan harian, dan ketidakpastian masa depan.
“Jangankan untuk berlibur, untuk makan besok saja belum tentu,” bunyi penggalan pesan yang kini banyak dibagikan oleh warganet – sebuah kalimat singkat yang secara jujur dan getir memotret realitas yang ada.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tidak boleh mengabaikan konteks sosial di sekitarnya. Guru bukan sekadar pengajar mata pelajaran, melainkan juga penjaga rasa aman di kelas. Melalui satu pertanyaan yang tepat, anak-anak bisa merasa diterima, setara, dan dihargai.
Karena di sekolah, pelajaran pertama yang seharusnya diajarkan bukanlah matematika atau bahasa – melainkan kemanusiaan.**(Red)



Bojonegoro Lintasjtim.site- Pasca libur sekolah telah usai, derap langkah kecil kembali mengisi halaman sekolah dengan membawa tas, seragam, serta kisah yang tak selalu sama bagi setiap siswa.